Sekedar Informasi

Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemikiran. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 Mei 2009

Pemeriksaan Kesehatan Capres dan Cawapres Hanya Sebagai Formalitas

Pagi ini saya menemukan topik yang menarik dari acara Apa Kabar Indonesia di TV One. Dalam acara ini disebutkan dari narasumber, tim pemeriksa kesehatan capres dan cawapres, bahwa pemeriksaan kesehatan kesehatan capres dan cawapres hanyalah sebagai formalitas belaka karena pada kenyataannya para dokter tidak akan berani merekomendasikan untuk mendiskualifikasikan capres atau cawapres bahkan ketika kondisi kesehatannya disinyalir tidak baik. Hal ini tentu saja sangat menarik. Betapa tidak, pemeriksaan kesehatan yang banyak menjadi sorotan media ternyata tidak lebih dari sekedar formalitas, sesuatu yang tiada berarti karena tidak akan berpengaruh terhadap lika liku setiap capres dan cawapres dalam menuju kursi kepresidenan.

Pertanyaannya adalah, bila pemeriksaan kesehatan hanya sekedar formalitas yang tiada berguna, kenapa masih dilakukan juga?

Rabu, 06 Mei 2009

Memanfaatkan Flu Babi Untuk Meningkatkan Sarana dan Prasarana Kesehatan

Dari kantor berita ANTARA, disebutkan bahwa dari perspektif jangka panjang, wabah flu yang terjadi di Mexico telah membantu Mexico meningkatkan prasarana kesehatannya dan budaya pencegahan penyakit. Pernyataan ini dilontarkan oleh Presiden Mexico Felipe Calderon.

Pernyataan ini cukup menarik untuk diperhatikan. Ternyata dengan adanya wabah flu babi masyarakat Mexico menjadi lebih memperhatikan kesehatan mereka. Ini cukup menimbulkan pertanyaan: apakah munculnya flu babi ini merupakan sesuatu yang disengaja?

Terlepas dari sengaja atau tidak, mungkin pemerintah Indonesia perlu mulai memikirkan alternatif ini untuk menjadikan wabah flu burung sebagai alat untuk merubah budaya masyarakat Indonesia menuju pada budaya yang mencintai kebersihan. Memang benar, ratusan, atau bahkan ribuan orang akan meninggal, akan tetapi ada pepatah mengatakan: Jer Basuki Mawa Bea - kesukesan itu memerlukan pengorbanan. Selama yang menjadi korban bukan warga miskin, mengapa tidak?

Bagaimana menurut anda?

Senin, 27 April 2009

Bagaimana Menulis Secara Deskriptif?

Bagaimanakah mendeskripsikan sebuah suasana? Bagaimana pula mendeskripsika suatu tempat? dan yang paling penting adalah, bagaimanakah semua itu dapat membuat pembaca masuk ke dalam suasana atau tempat yang dideskripsikan?

Tadi malam, saya menanyakan hal tersebut kepada diri saya sendiri. Bagaimana tidak, saya waktu itu sedang berada di depan komputer saya. Program Text Room yang khusus ditujukan agar para penggunanya bisa fokus pada menulis telah saya jalankan. Beberapa kalimat saya tulis. Tapi kemudian saya bertanya-tanya, "Gimana ya mau mendeskripsikan apa yang ada di kepala saya agar dapat meyakinkan pembaca?". Berulang kali saya menulis dan mengedit, namun, pada akhirnya, setelah dua jam saya baru bisa menuliskan beberapa paragraf saja.

Ya, menulis itu ternyata susah. Namun sepertinya jawaban akan pertanyaan saya sudah ada di depan mata:

1. Latihan secara rutin. Jadikan menulis sebuah kebiasaan
2. Cari pendapat orang lain. Semakin banyak semakin bagus. Mendengar kritik dari satu orang bisa menimbulkan bias.

Yah, itulah solusinya. Atau, ada diantara kalian yang mempunyai solusi lain??

Rabu, 22 April 2009

Alasan Kenapa Fatwa Golput Haram Lebih Dekat Pada Dosa

Isu ini sudah cukup lama muncul, banyak yang pro, banyak juga yang kontra. Saya sendiri sangat menentang fatwa ini. Alasannya adalah sebagai berikut:


1. Pendapat yang sering saya dengar adalah bahwa golput akan menciderai demokrasi. Akan tetapi bila kita memaksa seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak ia inginkan bukankah itu lebih menciderai demokrasi? Dalam demokrasi masyarakat mempuyai hak untuk mengutarakan pendapat dengan bebas, tetapi apakah hal tersebut juga berarti bahwa masyarakat juga WAJIB berpendapat? Bagaimana jika masyarakat tidak mempunyai pendapat? Apakah akan keluar fatwa bahwa tidak berpendapat itu haram?


2. Berbicara mengenai demokrasi, demokrasi seperti apakah yang mampu bertahan di dunia ini? Adakah dari kalian yang berfikir bahwa yang dimaksud dengan demokrasi hanyalah demokrasi pro-Amerika? Dan bahwa kita hanya budak dari Amerika? Jadi, kenapa takut menciderai demokrasi apabila demorasi itu sendiri hanyalah sebuah alat untuk memperbudak kita?


3. Jika dalam pemilu saya tidak mempunyai pilihan, maka tidak memilih itu lebih baik dari pada memilih secara sembarangan. Bila saya memilih secara sembarangan, maka saya menentukan nasib/pilihan tidak didasarkan atas ilmu pengetahuan melainkan atas dasar prasangka-prasangka belaka. Bahkan bisa jadi saya menentukannya dengan cara mengundi. Padahal kedua hal tersebut jelas-jelas dilarang dalam Islam. Larangan menentukan nasib dengan undian dan bertindak berdasarkan prasangka tanpa pengetahuan termuat jelas di dalam Al Quran yang merupakan firmal Allah. Sementara itu fatwa golput haram yang syarat dengan muatan politik itu dikeluarkan oleh manusia.


Jadi, mana peraturan yang akan anda turuti? Yang dari Allah? atau dari manusia?

Alasan Kenapa Golput Lebih Baik


Pemilu legislatif telah berakhir. Sementara sebagian orang protes karena tidak dapat menggunakan hal pilihnya, saya justru dengan tidak sengaja memilih untuk tidak menggunakan hak pilih saya. Inilah beberapa alasan kenapa saya melakukan hal tersebut:

1. Tidak ada caleg yang menarik perhatian saya.
Dari sekian banyak caleg yang di usung oleh sekian banyak partai, ternyata tidak satu pun yang dapat menarik perhatian saya. Tak satu pun mampu memperlihatkan kepada saya mengenai apa-apa saja yang akan mereka lakukan di masa depan untuk memperbaiki nasib negeri ini.

2. Caleg yang saya kenal/ketahui justru mereka yang menggunakan money politics.
Ya. Dari sekian caleg yang saya ketahui, dalam artian mareka adalah tetangga desa, temannya orang tua, atau yang lainnya, semuanya melakukan money politics. Money politic yang mereka lakukan memang tidak dengan menyebarkan amplop, akan tetapi dengan memberikan sumbangan secara "jor-joran" kepada RT, mesjid, pedukuhan, organisasi-organisasi massa, dan lainnya. Ini sama saja dengan money politics. Money politics memang sudah biasa terjadi, akan tetapi bukan berarti boleh terjadi dan boleh dimaklumi. Saya sendiri telah menyaksikan dua orang yang berhasil menduduki posisi sebagai Kepala Dukuh tanpa ada money politics sama sekali. Dan sampai saat ini pun saya yakin bahwa nyaleg tanpa money politics adalah sesuatu yang masih sangat mungking. Yang perlu kita lakukan adalah mulai sekarang janganlah memilih orang-orang yang menggunakan money politics sebagai cara mereka memperoleh kekuasaan.

3. Tidak memilih lebih baik dari pada memilih sembarangan
Bila saya tidak mempunyai seseorang untuk dipilih, maka saya lebih baik tidak memilih ketimbang memilih dengan sembarangan. Itu sama saja berjudi.

4. Ini adalah hak pilih, bukan kewajiban pilih
Indonesia bukan Australia. Memilih adalah sebuah hak, bukan kewajiban.

Gimana? Tertarik dengan golput?

Senin, 06 April 2009

Bagaimana Kepercayaan Dapat Berpotensi Membahayakan Kesehatan

... menyambung post saya yang sebelumnya:

Bagaimana Kepercayaan Dapat Menyembuhkan Penyakit

Kasus ini hampir terjadi pada ibu saya. Karena "Hampir" maka pendapat saya ini juga dapat mengarah pada sesuatu yang hanya bersifat prejudice saja. Akan tetapi saya tetap berkeyakinan bahwa kejadian ini merupakan sesuatu yang dapat membahayakan kesehatan.

Ceritanya berawal ketika ibu saya mengeluh sering sakit di badannya. Kemudian salah satu teman ibu menyarankan obat yang sering ia konsumsi ketika badannya sakit. Lagi-lagi, pola bagaimana teman saya sering mengkonsumsi obat tersebut sama persis dengan pola bagaimana ibu saya mengkonsumsi Sinova (baca post saya sebelumnya). Obat yang disarankan oleh teman ibu saya adalah Tetracilin, sebuah obat yang hanya dijual di apotek (obat tak bebas). Ibu pun menerima obat tersebut, akan tetapi sebelum ibu saya meminumnya, saya sudah terlebih dahulu berkoar-koar untuk melarang ibu meminumnya.

Saya tidaklah mempunyai latar belakang di bidang obat-obatan, akan tetapi saya orangnya cukup rasional. Bagi saya hal tersebut sudah cukup, terutama dalam memicu pikiran kritis mengenai kandungan obat dan fungsinya. Hal tersebut cukup penting untuk menghindari kemungkinan salah minum obat.

Obat yang hendak diminum ibu saya tersebut mempunyai akhiran "cilin" dalam kandungan obatnya, yang juga sekaligus nama obatnya. Dari pengamatan saya, setiap obat yang mempunyai akhiran "cilin" merupakan jenis obat dari golongan antibiotik. Misalnya saja penicillin, amoxillin, tetracilin dan lain sebagainya. Tentu saja setiap obat antibiotik berbeda-beda, bisa jadi berbeda sifat, kekuatan, lokasi yang ditangani, dan lain-lain. Akan tetapi satu hal mengenai antibiotik yang saya tahu: tidak boleh diminum secara sembarangan karena dapat menyebabkan imunitas bakteri. Berbekal pemikiran ini saya kemudian melarang ibu saya untuk meminum obat tersebut dan berusaha menjelaskan apa itu sebenarnya tetracilin.

Setelah berberapa waktu, Alhamdulillah ibu saya mau mendengarkan saya dan membatalkan niatnya untuk meminum obat tersebut. Memang sih, ia kemudian berganti ke Voltadex yang sebenarnya merupakan obat penghilang rasa sakit pada syaraf tepi dari golongan sodium (kandungannya adalah Diclorofenat Sodium), dimana obat tersebut sebenarnya juga tidak boleh dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama karena dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Tetapi sekali lagi saya bersyukur karena saya dapat setidaknya mengurangi dan mengontrol konsumsi obat tersebut.

Kasus pada ibu saya tersebut bersumber pada keyakinan. Memang benar bahwa keyakinan dapat menyembuhkan, akan tetapi, menurut saya, apabila keyakinan ini merupakan keyakinan buta, maka bisa jadi hal tersebut dapat membawa petaka bagi orang yang menjalaninya.

Bagaimana Kepercayaan Dapat Menyembuhkan Penyakit

Kepercayaan atau keyakinan boleh dibilang adalah sesuatu hal yang luar biasa. Bahkan sebuah kepercayaan atau keyakinan akan hal-hal tertentu dapat membawa kesembuhan dari suatu penyakit. Namun demikian, kepercayaan juga dapat menyebabkan hal yang sebaliknya.

Ibu saya mempunyai masalah dengan kolesterol. Setiap kali ia ke dokter, ia selalu diberi obat Sinova. Oleh karena itu setiap kali ia merasa bahwa kolesterolnya tinggi, ia selalu meminum obat tersebut. Tentu saja ia dapat sembuh karena Sinova memang obat untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Akan tetapi, kepercayaannya kepada obat ini justru pernah berbalik menyerangnya.

Pada suatu ketika persediaan obat Sinova sudah habis. Ibu pun menyuruh saya untuk membeli lagi. Saya pun segera ke apotek. Namun persediaan Sinova di apotek tersebut sudah habis. Sang apoteker pun menawarkan obat lain yang bernama Cholestat. Baik Sinova maupun Cholestat mempunyai kandungan obat yang sama, yaitu simvastatin. Akan tetapi, ketika sampai di rumah, ibu saya ragu dan tidak percaya karena merknya berbeda. Saya pun mencoba menjelaskan bahwa kandungan obat tersebut sama dengan obat yang biasa diminum oleh ibu. Ibu pun meminumnya dengan rasa tidak percaya bahwa obat itu akan menyembuhkanya. Maklum, ibu saya sudah tua, jadi tidak begitu mengerti mengenai kandungan obat atau semacamnya. Yang ibu saya tahu bahwa kalau Sinova adalah obat dari dokter yang selalu berhasil menyembukannya, oleh karena itu obat dengan merk lain tidak akan ia percaya.

Pada keesokan harinya, ibu saya masih mengeluh karena badannya tidak merasa baikan. Padahal biasanya setelah meminum obat ia akan merasa baikan. Bila saya pikir secara rasional, apabila ada dua obat dengan merk yang berbeda, tetapi dengan kandungan yang sama dan dosis yang sama, maka khasiatnya pun akan kurang lebih sama. Akan tetapi khasiat obat tersebut dapat menjadi berlipat atau berkurang, tergantung dari bagaimana keyakinan kita ketika meminumnya.

Contoh di atas masih dapat dimaklumi dan masih dapat ditolerir. Akan tetapi terkadang kepercayaan yang demikian dapat mengarah pada sesuatu yang berpotensi membahayakan kesehatan bahkan jiwa kita. Ikuti post saya selanjutnya ... (Bagaimana Kepercayaan Dapat Berpotensi Membahayakan Kesehatan)

Apakah Penunggu Apotek Harus Seorang Apoteker?

Malam ini saya berkeliling ke beberapa apotek untuk mencari obat untuk kakak saya. Salah satu obatnya adalah Ranitidin. Saya kebetulan orang yang cukup sering dibuat penasaran akan khasiat obat-obatan. Hal ini terutama disebabkan oleh kebiasaan orang tua saya mengkonsumsi obat tak bebas (harus dengan resep dokter) hanya berdasarkan kepercayaan. Namun apa yang terjadi pada malam ini membuat saya bertanya-tanya mengenai perihal lain.

Selama ini saya belum pernah membeli obat Ranitidin. Ini adalah kali pertama saya membeli obat ini. Oleh karena itu saya menjadi tertarik untuk mengetahui kegunaan dari obat itu. Saya pun bertanya kepada penjaga apotek mengenai obat tersebut. Ia menjawab, "Maaf, saya tidak tahu. Apotekernya sedang pulang". Apa yang menjadi jawabannya tersebut membuat saya menjadi bertanya-tanya dalam hati, "Apakah seorang penunggu apotek harus seorang apoteker? Ataukah semua orang boleh menjadi penunggu apotek?". Ini cukup penting, karena ketika saya membeli obat di apotek, saya merasa berhak untuk mendapatkan informasi mengenai obat yang saya beli. Untuk itu orang yang menunggu apotek tentu saja harus mengetahui mengenai obat-obatan dan pengetahuannya itu dikonfirmasi dengan adanya ijazah dari keilmuan yang bersangkotan (Sarjana Apoteker). Lalu apa yang terjadi pada apotek yang baru saja saya kunjungi malam ini? Apakah hanya keteledoran semata ataukah hanya semacam convinience-matter bagi sang pemilik/penunggu apotek karena yang bersangkutan sedang pergi? Entahlah, tapi semoga hal ini bukan sesuatu yang dapat merugikan pihak-pihak yang berkepentingan (stake holder).

Menulis Novel Dalam Waktu Kurang Dari Satu Bulan

Kemarin saya menulis komentar untuk beberapa film. Dari Komentar-komentar itu lahir pula beberapa ide untuk tulisan. Dan saya terus saja menulis. Hasilnya ternyata saya dapat menulis sekitar 950 kata dalam waktu kurang dari satu jam, mungkin kira-kira 45 menit. Saya tahu itu karena di komputer saya, yang menggunakan sistem operasi Ubuntu Linux, terpasang software Workrave yang saya atur agar memaksa saya untuk mengambil istirahat selama 10 menit setiap jamnya.

Dapat menulis 950 kata dalam waktu kurang dari satu jam merupakan sesuatu yang menarik bagi saya. Ini dikarenakan apabila saya dapat terus mengasah kemampuan menulis saya, maka saya dapat menulis sebuah novel dalam waktu kurang dari satu bulan. Perhitungannya sangat sederhana. Saya pernah mendapatkan softcopy novel teman saya, tentu saja yang masih belum final, yang ketika saya hitung jumlah katanya ada sekitar 39.869 kata. Novel terbitannya tentu saja tidak jauh berbeda dengan versi draftnya. Nah sekarang asumsikan saja saya ingin membuat satu novel dengan 45.000 kata, dan diasumsikan saya dapat menulis 1000 kata dalam satu jam, maka saya hanya butuh 45 jam untuk menyelesaikan novel tersebut. Jika saya bekerja 5 jam perhari maka saya dapat menyelesaikan novel tersebut dalam waktu 8 hari. Hebat bukan?

Akan tetapi hal tersebut tentu saja tidak akan semulus yang dibayangkan. Terutama bagi saya yang masih sangat pemula dalam hal tulis menulis. Hambatan-hambatan yang pastinya akan sering saya temui adalah writer block dan mood yang tidak mendukung. Writer block bisa jadi berupa tidak tahu apa yang akan ditulis selanjutnya. Hal ini memang dapat diatasi dengan membuat semacam outline cerita terlebih dahulu. Namun demikian, terkadang membuat outline itu sendiri juga dapat menyita waktu yang cukup lama. Bahkan dengan outline pun terkadang saya masih menemui hambatan writer block yang berupa kebingungan bagaimana menggambarkan atau menuliskan sebuah adegan, termasuk di dalamnya memilih kata yang tepat. Untuk mood, saya tidak bisa bilang banyak. Terkadang muncul, tetapi seringkali tidak. Namun demikian hal ini juga dapat diatasi dengan melatih diri dengan menulis dengan teratur pada jadwal yang teratur.

Saat ini saya sedang melatih kemampuan menulis saya dengan mencoba menulis dengan teratur. Dalam hal ini saya akan mencoba menulis apapun, seperti yang telah di inspirasikan oleh film Marley and Me. Saya sebenarnya telah tahu mengenai teknik menulis "jotting", atau menulis apa saja, untuk menghilangkan writer block dan mengeluarkan diri dari kungkungan mood, akan tetapi saya baru terpacu ketika saya menonton film Marley and Me.

Bagaimanakah Sebuah Film Dikatakan Film Yang Bagus?

Bagaimana sih film yang bagus itu? Bagi saya ada beberapa hal yang membuat sebuah film dapat dikategorikan sebagai bagus, wajib ditonton, bahkan wajid dikoleksi. Yang pertama adalah apabila film yang saya tonton tidak membuat saya menebak apa yang akan terjadi selanjutnya atau tidak membuat saya berfikir tentang struktur film itu, maka saya menganggap film itu adalah termasuk film yang sangat bagus. Permasalahannya adalah bahwa saya kebetulan mempunyai sedikit pengetahuan mengenai menulis naskah film dan tau bagian-bagian dari sebuah cerita film. Bahkan menurut sebuah artikel yang saya baca, sekitar 90% film Hollywood dibuat berdasarkan struktur yang cukup baku. Oleh karena itu apabila ada film yang bisa membuat saya melupakan struktur sebuah film maka film itu saya anggap sangat bagus.

Yang kedua, andaikata pun suatu film dapat membuat saya menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, atau membuat saya teringat akan struktur sebuah film, bila apa yang disajikan benar-benar sesuatu yang tidak tertebak, sesuatu yang benar-benar diluar dugaan, maka menurut saya film tersebut adalah film yang bagus. Unsur kejutan adalah sesuatu yang selalu menarik bagi saya.

Diluar dua hal tersebut di atas, ada beberapa hal yang membuat saya merasa bahwa sebuah film menarik untuk ditonton. Walaupun, tentu saja, hal tersebut belum tentu berarti bahwa film tersebut bagus. Misalkan saja akting yang luar biasa dan sangat natural, bintang film yang main, atau aktris yang cantik. Saya pernah menonton salah satu film Jackie Chan, kalau tidak salah judulnya Rob B, yang menurut saya merupakan salah satu film Jackie yang terburuk. Akan tetapi saya tetap saja menontonnya karena saya kebetulan penggemar Jackie Chan.

Apakah Orang Sholat Tidak Perlu Tahu Arti Bacaannya?

Beberapa waktu yang lalu saya berkunjung ke rumah pakde saya. Dan di sana saya mendapatkan sebuah perkataan yang cukup mengejutkan dan membuat saya berfikir mengenai hal tersebut.

Ketika itu kami sedang berbicara mengenai tata cara sholat. Kemudian pakde saya mengatakan bahwasanya dalam belajar sholat yang penting adalah bacaannya yang benar, dan orang yang sholat tidak perlu tahu arti bacaannya. Hal ini membuat saya sangat terkejut dan berfikir, "Apakah benar kalau kita sholat kita tidak perlu tahu arti bacaannya?". Pertanyaan-pertanyaan lain kemudian muncul:

"Bukankah sholat itu merupakan dialog dengan Allah? Sebuah cara agar kita dapat berkomunikasi dengan Allah?"

"Jika kita tidak tahu apa arti bacaan kita, lalu bagaimana kita tau mengenai apa yang sebenarnya kita lakukan?"

"Apakah ada bedanya antara membaca bacaan dengan tidak membaca bacaan ketika kita tidak tahu arti dari apa yang kita baca?"

dan sebagainya.

Saya pribadi tidak setuju mengenai hal tersebut. Menurut saya ketika sholat kita harus mengetahui apa arti dari apa yang kita baca sehingga kita dapat sholat dengan lebih khusyuk, tidak hanya sekedar sholat kosong yang didasarkan atas hafalan, bukan ilmu.

Kenapa 6 dari 10 Orang Indonesia Kurang Vitamin?

Ada iklan yang menarik yang mempertanyakan mengapa masih banyak orang Indonesia kurang mengkonsumsi buah-buahan. Dalam iklan itu juga disebutkan bahwa untuk mengganti buah-buahan yang mereka tidak sempat makan maka cukup meminum produk minuman yang sedang diiklankan.

Melihat iklan tersebut saya menjadi berfikir dua hal: Penelitian mengenai kurangnya orang Indonesia dalam mengkonsumsi buah-buahan itu dilakukan di mana?, dan, Komposisi pendapatan orang yang disurvey bagaimana?

Hal ini cukup menarik pikiran saya. Apabila survey dilakukan di kota-kota besar dengan komposisi responden kalangan menengah ke atas maka apa yang diutarakan oleh iklan tersebut cukup masuk akal. Akan tetapi bila komposisi pendapatan para responden merupakan orang-orang dari kalangan menengah ke bawah atau malah seluruh lapisan masyarakat, maka apa yang disampaikan oleh iklam tersebut menjadi sangat lucu. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia masih banyak yang berada di bawah garis kemiskinan. Daya beli masyarakat pun terbilang sangat rendah. Oleh karena itu apabila masyarakat kurang mengkonsumsi buah maka hal tersebut sangatlah wajar karena bagi kebanyakan masyarakat kita buah bukanlah sesuatu yang merupaka kebutuhan pokok. Bahkan bagi sebagian, buah termasuk barang yang mewah.

Secara umum saya memandang iklan tersebut lucu. Hal ini dikarenakan dalam pengamatan saya yang awam ini, buah masih merupakan barang yang mewah (lux) bagi kebanyakan masyarakat kita. Dengan demikian, alternatif mengkonsumsi produk mimuman yang diiklankan tersebut juga merupakan sesuatu yang absurd.

Perspektif Manusia Menciptakan Bulan

Saya pernah membaca suatu artikel yang menyatakan pendapat bahwa bulan mungkin diciptakan oleh manusia. Artikel ini cukup menarik juga. Akan tetapi yang ane cukup menyayangkan adalah komentar beberapa orang terhadap artikel ini.

Beberapa komentar tersebut berisi seputar hal bahwa bulan itu diciptakan oleh Allah, dengan demikian kalau ada manusia yang mengklaim bahwa bulan merupakan ciptaan manusia maka itu adalah sebuah kesombongan yang luar biasa. "Sekalian saja bilang kalau matahari dan alam semesta adalah dibuat oleh manusia", demikian kurang lebih salah satu komentar yang saya baca.

Saya menyayangkan komentar tersebut karena hal tersebut bagi saya menunjukkan betapa kurang terbukanya pikiran mereka dan bahkan ada indikasi kalau mereka yang berkomentar tidak membaca artikel tersebut secara teliti. Kurang terbukanya pikiran seseorang akan menhambat pemahaman terhadap persepsi suatu pendapat yang ia baca atau dengan. Berikut ini akan saya jabarkan pemikiran saya mengenai persepsi artikel tersebut.

Siapakah yang menciptakan motor, mobil, pesawat terbang, atau kapal laut? Manusia atau Allah? Secara duniawi tentu saja manusia, akan tetapi secara esensi penciptanya tentu saja adalah Allah, akan tetapi Allah menciptakannya melalui tangan manusia. Bagaimana dengan terumbu karang? Siapakah yang menciptakan terumbu karang? Secara duniawi yang terumbu karang tercipta oleh proses alami, dengan demikian secara duniawi yang menciptakan terumbu karang adalah alam. Akan tetapi secara esensi tentu saja penciptanya adalah Allah, akan tetapi melalui proses alam. Nah sekarang bagaimana apabila ada sebuah kapal laut yang sudah tua kemudian ditenggelamkan agar beberapa tahun kemudian tercipta terumbu karam buatan dari bangkai kapal tersebut? Siapakah yang menciptakan terumbu karang buatan itu? Jawabannya tentu saja hampir sama dengan yang ada di atas. Secara duniawi terumbu karang tersebut diciptakan oleh proses alam yang dibantu dengan tangan manusia, akan tetapi secara esensi penciptanya tentu saja Allah. Allah menciptakan terumbu karang buatan tersebut melalui tangan manusia dan proses alam.

Dalam artikel mengenai kemungkinan bulan diciptakan manusia sebenarnya juga hampir sama dengan terumbu karang. Dalam artikel tersebut disebutkan beberapa fakta yang mengindikasikan bahwa bulan sebenarnya adalah sebuah pesawat luar angkasa yang pada jaman dahulu digunakan manusia untuk menjelajahi alam semesta ini. Tetapi setelah menetap di Bumi, maka manusia menutuskan untuk menjadikan bulan sebagai alat pemantul cahaya mata hari pada waktu malam hari. Jadi, dalam artikel tersebut yang menciptakan bulan secara DUNIAWI adalah manusia - sebagai mana manusia menciptakan kapal laut yang kemudian ditenggelamkan untuk membentuk terumbu karang buatan - namun secara esensi yang menciptakan bulan tetaplah Allah. Yang menjadi perbedaan dengan pemahamam umum adalah bahwa Allah menciptakan bulan melalui tangan manusia, bukan melalui proses alam.

Catatan:
Dalam artikel tersebut tidak disebutkan mengenai esensi penciptaan bulan yang sebenarnya oleh Allah. Sudut pandang duniawi dan esensi hanya sesuatu yang saya buat untuk mempermudah pemahaman sudut pandang artikel tersebut bagi mereka yang percaya bahwa Allah itu ada.