Pemilu legislatif telah berakhir. Sementara sebagian orang protes karena tidak dapat menggunakan hal pilihnya, saya justru dengan tidak sengaja memilih untuk tidak menggunakan hak pilih saya. Inilah beberapa alasan kenapa saya melakukan hal tersebut:
1. Tidak ada caleg yang menarik perhatian saya.
Dari sekian banyak caleg yang di usung oleh sekian banyak partai, ternyata tidak satu pun yang dapat menarik perhatian saya. Tak satu pun mampu memperlihatkan kepada saya mengenai apa-apa saja yang akan mereka lakukan di masa depan untuk memperbaiki nasib negeri ini.
2. Caleg yang saya kenal/ketahui justru mereka yang menggunakan money politics.
Ya. Dari sekian caleg yang saya ketahui, dalam artian mareka adalah tetangga desa, temannya orang tua, atau yang lainnya, semuanya melakukan money politics. Money politic yang mereka lakukan memang tidak dengan menyebarkan amplop, akan tetapi dengan memberikan sumbangan secara "jor-joran" kepada RT, mesjid, pedukuhan, organisasi-organisasi massa, dan lainnya. Ini sama saja dengan money politics. Money politics memang sudah biasa terjadi, akan tetapi bukan berarti boleh terjadi dan boleh dimaklumi. Saya sendiri telah menyaksikan dua orang yang berhasil menduduki posisi sebagai Kepala Dukuh tanpa ada money politics sama sekali. Dan sampai saat ini pun saya yakin bahwa nyaleg tanpa money politics adalah sesuatu yang masih sangat mungking. Yang perlu kita lakukan adalah mulai sekarang janganlah memilih orang-orang yang menggunakan money politics sebagai cara mereka memperoleh kekuasaan.
3. Tidak memilih lebih baik dari pada memilih sembarangan
Bila saya tidak mempunyai seseorang untuk dipilih, maka saya lebih baik tidak memilih ketimbang memilih dengan sembarangan. Itu sama saja berjudi.
4. Ini adalah hak pilih, bukan kewajiban pilih
Indonesia bukan Australia. Memilih adalah sebuah hak, bukan kewajiban.
Gimana? Tertarik dengan golput?
Sekedar Informasi
Rabu, 22 April 2009
Alasan Kenapa Golput Lebih Baik
0
komentar
Kategori:
Pemikiran
Senin, 06 April 2009
Bagaimana Kepercayaan Dapat Berpotensi Membahayakan Kesehatan
... menyambung post saya yang sebelumnya:
Bagaimana Kepercayaan Dapat Menyembuhkan Penyakit
Kasus ini hampir terjadi pada ibu saya. Karena "Hampir" maka pendapat saya ini juga dapat mengarah pada sesuatu yang hanya bersifat prejudice saja. Akan tetapi saya tetap berkeyakinan bahwa kejadian ini merupakan sesuatu yang dapat membahayakan kesehatan.
Ceritanya berawal ketika ibu saya mengeluh sering sakit di badannya. Kemudian salah satu teman ibu menyarankan obat yang sering ia konsumsi ketika badannya sakit. Lagi-lagi, pola bagaimana teman saya sering mengkonsumsi obat tersebut sama persis dengan pola bagaimana ibu saya mengkonsumsi Sinova (baca post saya sebelumnya). Obat yang disarankan oleh teman ibu saya adalah Tetracilin, sebuah obat yang hanya dijual di apotek (obat tak bebas). Ibu pun menerima obat tersebut, akan tetapi sebelum ibu saya meminumnya, saya sudah terlebih dahulu berkoar-koar untuk melarang ibu meminumnya.
Saya tidaklah mempunyai latar belakang di bidang obat-obatan, akan tetapi saya orangnya cukup rasional. Bagi saya hal tersebut sudah cukup, terutama dalam memicu pikiran kritis mengenai kandungan obat dan fungsinya. Hal tersebut cukup penting untuk menghindari kemungkinan salah minum obat.
Obat yang hendak diminum ibu saya tersebut mempunyai akhiran "cilin" dalam kandungan obatnya, yang juga sekaligus nama obatnya. Dari pengamatan saya, setiap obat yang mempunyai akhiran "cilin" merupakan jenis obat dari golongan antibiotik. Misalnya saja penicillin, amoxillin, tetracilin dan lain sebagainya. Tentu saja setiap obat antibiotik berbeda-beda, bisa jadi berbeda sifat, kekuatan, lokasi yang ditangani, dan lain-lain. Akan tetapi satu hal mengenai antibiotik yang saya tahu: tidak boleh diminum secara sembarangan karena dapat menyebabkan imunitas bakteri. Berbekal pemikiran ini saya kemudian melarang ibu saya untuk meminum obat tersebut dan berusaha menjelaskan apa itu sebenarnya tetracilin.
Setelah berberapa waktu, Alhamdulillah ibu saya mau mendengarkan saya dan membatalkan niatnya untuk meminum obat tersebut. Memang sih, ia kemudian berganti ke Voltadex yang sebenarnya merupakan obat penghilang rasa sakit pada syaraf tepi dari golongan sodium (kandungannya adalah Diclorofenat Sodium), dimana obat tersebut sebenarnya juga tidak boleh dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama karena dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Tetapi sekali lagi saya bersyukur karena saya dapat setidaknya mengurangi dan mengontrol konsumsi obat tersebut.
Kasus pada ibu saya tersebut bersumber pada keyakinan. Memang benar bahwa keyakinan dapat menyembuhkan, akan tetapi, menurut saya, apabila keyakinan ini merupakan keyakinan buta, maka bisa jadi hal tersebut dapat membawa petaka bagi orang yang menjalaninya.
Bagaimana Kepercayaan Dapat Menyembuhkan Penyakit
Kasus ini hampir terjadi pada ibu saya. Karena "Hampir" maka pendapat saya ini juga dapat mengarah pada sesuatu yang hanya bersifat prejudice saja. Akan tetapi saya tetap berkeyakinan bahwa kejadian ini merupakan sesuatu yang dapat membahayakan kesehatan.
Ceritanya berawal ketika ibu saya mengeluh sering sakit di badannya. Kemudian salah satu teman ibu menyarankan obat yang sering ia konsumsi ketika badannya sakit. Lagi-lagi, pola bagaimana teman saya sering mengkonsumsi obat tersebut sama persis dengan pola bagaimana ibu saya mengkonsumsi Sinova (baca post saya sebelumnya). Obat yang disarankan oleh teman ibu saya adalah Tetracilin, sebuah obat yang hanya dijual di apotek (obat tak bebas). Ibu pun menerima obat tersebut, akan tetapi sebelum ibu saya meminumnya, saya sudah terlebih dahulu berkoar-koar untuk melarang ibu meminumnya.
Saya tidaklah mempunyai latar belakang di bidang obat-obatan, akan tetapi saya orangnya cukup rasional. Bagi saya hal tersebut sudah cukup, terutama dalam memicu pikiran kritis mengenai kandungan obat dan fungsinya. Hal tersebut cukup penting untuk menghindari kemungkinan salah minum obat.
Obat yang hendak diminum ibu saya tersebut mempunyai akhiran "cilin" dalam kandungan obatnya, yang juga sekaligus nama obatnya. Dari pengamatan saya, setiap obat yang mempunyai akhiran "cilin" merupakan jenis obat dari golongan antibiotik. Misalnya saja penicillin, amoxillin, tetracilin dan lain sebagainya. Tentu saja setiap obat antibiotik berbeda-beda, bisa jadi berbeda sifat, kekuatan, lokasi yang ditangani, dan lain-lain. Akan tetapi satu hal mengenai antibiotik yang saya tahu: tidak boleh diminum secara sembarangan karena dapat menyebabkan imunitas bakteri. Berbekal pemikiran ini saya kemudian melarang ibu saya untuk meminum obat tersebut dan berusaha menjelaskan apa itu sebenarnya tetracilin.
Setelah berberapa waktu, Alhamdulillah ibu saya mau mendengarkan saya dan membatalkan niatnya untuk meminum obat tersebut. Memang sih, ia kemudian berganti ke Voltadex yang sebenarnya merupakan obat penghilang rasa sakit pada syaraf tepi dari golongan sodium (kandungannya adalah Diclorofenat Sodium), dimana obat tersebut sebenarnya juga tidak boleh dikonsumsi dalam jangka waktu yang lama karena dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Tetapi sekali lagi saya bersyukur karena saya dapat setidaknya mengurangi dan mengontrol konsumsi obat tersebut.
Kasus pada ibu saya tersebut bersumber pada keyakinan. Memang benar bahwa keyakinan dapat menyembuhkan, akan tetapi, menurut saya, apabila keyakinan ini merupakan keyakinan buta, maka bisa jadi hal tersebut dapat membawa petaka bagi orang yang menjalaninya.
0
komentar
Kategori:
Pemikiran,
Pengalaman
Bagaimana Kepercayaan Dapat Menyembuhkan Penyakit
Kepercayaan atau keyakinan boleh dibilang adalah sesuatu hal yang luar biasa. Bahkan sebuah kepercayaan atau keyakinan akan hal-hal tertentu dapat membawa kesembuhan dari suatu penyakit. Namun demikian, kepercayaan juga dapat menyebabkan hal yang sebaliknya.
Ibu saya mempunyai masalah dengan kolesterol. Setiap kali ia ke dokter, ia selalu diberi obat Sinova. Oleh karena itu setiap kali ia merasa bahwa kolesterolnya tinggi, ia selalu meminum obat tersebut. Tentu saja ia dapat sembuh karena Sinova memang obat untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Akan tetapi, kepercayaannya kepada obat ini justru pernah berbalik menyerangnya.
Pada suatu ketika persediaan obat Sinova sudah habis. Ibu pun menyuruh saya untuk membeli lagi. Saya pun segera ke apotek. Namun persediaan Sinova di apotek tersebut sudah habis. Sang apoteker pun menawarkan obat lain yang bernama Cholestat. Baik Sinova maupun Cholestat mempunyai kandungan obat yang sama, yaitu simvastatin. Akan tetapi, ketika sampai di rumah, ibu saya ragu dan tidak percaya karena merknya berbeda. Saya pun mencoba menjelaskan bahwa kandungan obat tersebut sama dengan obat yang biasa diminum oleh ibu. Ibu pun meminumnya dengan rasa tidak percaya bahwa obat itu akan menyembuhkanya. Maklum, ibu saya sudah tua, jadi tidak begitu mengerti mengenai kandungan obat atau semacamnya. Yang ibu saya tahu bahwa kalau Sinova adalah obat dari dokter yang selalu berhasil menyembukannya, oleh karena itu obat dengan merk lain tidak akan ia percaya.
Pada keesokan harinya, ibu saya masih mengeluh karena badannya tidak merasa baikan. Padahal biasanya setelah meminum obat ia akan merasa baikan. Bila saya pikir secara rasional, apabila ada dua obat dengan merk yang berbeda, tetapi dengan kandungan yang sama dan dosis yang sama, maka khasiatnya pun akan kurang lebih sama. Akan tetapi khasiat obat tersebut dapat menjadi berlipat atau berkurang, tergantung dari bagaimana keyakinan kita ketika meminumnya.
Contoh di atas masih dapat dimaklumi dan masih dapat ditolerir. Akan tetapi terkadang kepercayaan yang demikian dapat mengarah pada sesuatu yang berpotensi membahayakan kesehatan bahkan jiwa kita. Ikuti post saya selanjutnya ... (Bagaimana Kepercayaan Dapat Berpotensi Membahayakan Kesehatan)
Ibu saya mempunyai masalah dengan kolesterol. Setiap kali ia ke dokter, ia selalu diberi obat Sinova. Oleh karena itu setiap kali ia merasa bahwa kolesterolnya tinggi, ia selalu meminum obat tersebut. Tentu saja ia dapat sembuh karena Sinova memang obat untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Akan tetapi, kepercayaannya kepada obat ini justru pernah berbalik menyerangnya.
Pada suatu ketika persediaan obat Sinova sudah habis. Ibu pun menyuruh saya untuk membeli lagi. Saya pun segera ke apotek. Namun persediaan Sinova di apotek tersebut sudah habis. Sang apoteker pun menawarkan obat lain yang bernama Cholestat. Baik Sinova maupun Cholestat mempunyai kandungan obat yang sama, yaitu simvastatin. Akan tetapi, ketika sampai di rumah, ibu saya ragu dan tidak percaya karena merknya berbeda. Saya pun mencoba menjelaskan bahwa kandungan obat tersebut sama dengan obat yang biasa diminum oleh ibu. Ibu pun meminumnya dengan rasa tidak percaya bahwa obat itu akan menyembuhkanya. Maklum, ibu saya sudah tua, jadi tidak begitu mengerti mengenai kandungan obat atau semacamnya. Yang ibu saya tahu bahwa kalau Sinova adalah obat dari dokter yang selalu berhasil menyembukannya, oleh karena itu obat dengan merk lain tidak akan ia percaya.
Pada keesokan harinya, ibu saya masih mengeluh karena badannya tidak merasa baikan. Padahal biasanya setelah meminum obat ia akan merasa baikan. Bila saya pikir secara rasional, apabila ada dua obat dengan merk yang berbeda, tetapi dengan kandungan yang sama dan dosis yang sama, maka khasiatnya pun akan kurang lebih sama. Akan tetapi khasiat obat tersebut dapat menjadi berlipat atau berkurang, tergantung dari bagaimana keyakinan kita ketika meminumnya.
Contoh di atas masih dapat dimaklumi dan masih dapat ditolerir. Akan tetapi terkadang kepercayaan yang demikian dapat mengarah pada sesuatu yang berpotensi membahayakan kesehatan bahkan jiwa kita. Ikuti post saya selanjutnya ... (Bagaimana Kepercayaan Dapat Berpotensi Membahayakan Kesehatan)
0
komentar
Kategori:
Pemikiran,
Pengalaman
Apakah Penunggu Apotek Harus Seorang Apoteker?
Malam ini saya berkeliling ke beberapa apotek untuk mencari obat untuk kakak saya. Salah satu obatnya adalah Ranitidin. Saya kebetulan orang yang cukup sering dibuat penasaran akan khasiat obat-obatan. Hal ini terutama disebabkan oleh kebiasaan orang tua saya mengkonsumsi obat tak bebas (harus dengan resep dokter) hanya berdasarkan kepercayaan. Namun apa yang terjadi pada malam ini membuat saya bertanya-tanya mengenai perihal lain.
Selama ini saya belum pernah membeli obat Ranitidin. Ini adalah kali pertama saya membeli obat ini. Oleh karena itu saya menjadi tertarik untuk mengetahui kegunaan dari obat itu. Saya pun bertanya kepada penjaga apotek mengenai obat tersebut. Ia menjawab, "Maaf, saya tidak tahu. Apotekernya sedang pulang". Apa yang menjadi jawabannya tersebut membuat saya menjadi bertanya-tanya dalam hati, "Apakah seorang penunggu apotek harus seorang apoteker? Ataukah semua orang boleh menjadi penunggu apotek?". Ini cukup penting, karena ketika saya membeli obat di apotek, saya merasa berhak untuk mendapatkan informasi mengenai obat yang saya beli. Untuk itu orang yang menunggu apotek tentu saja harus mengetahui mengenai obat-obatan dan pengetahuannya itu dikonfirmasi dengan adanya ijazah dari keilmuan yang bersangkotan (Sarjana Apoteker). Lalu apa yang terjadi pada apotek yang baru saja saya kunjungi malam ini? Apakah hanya keteledoran semata ataukah hanya semacam convinience-matter bagi sang pemilik/penunggu apotek karena yang bersangkutan sedang pergi? Entahlah, tapi semoga hal ini bukan sesuatu yang dapat merugikan pihak-pihak yang berkepentingan (stake holder).
Selama ini saya belum pernah membeli obat Ranitidin. Ini adalah kali pertama saya membeli obat ini. Oleh karena itu saya menjadi tertarik untuk mengetahui kegunaan dari obat itu. Saya pun bertanya kepada penjaga apotek mengenai obat tersebut. Ia menjawab, "Maaf, saya tidak tahu. Apotekernya sedang pulang". Apa yang menjadi jawabannya tersebut membuat saya menjadi bertanya-tanya dalam hati, "Apakah seorang penunggu apotek harus seorang apoteker? Ataukah semua orang boleh menjadi penunggu apotek?". Ini cukup penting, karena ketika saya membeli obat di apotek, saya merasa berhak untuk mendapatkan informasi mengenai obat yang saya beli. Untuk itu orang yang menunggu apotek tentu saja harus mengetahui mengenai obat-obatan dan pengetahuannya itu dikonfirmasi dengan adanya ijazah dari keilmuan yang bersangkotan (Sarjana Apoteker). Lalu apa yang terjadi pada apotek yang baru saja saya kunjungi malam ini? Apakah hanya keteledoran semata ataukah hanya semacam convinience-matter bagi sang pemilik/penunggu apotek karena yang bersangkutan sedang pergi? Entahlah, tapi semoga hal ini bukan sesuatu yang dapat merugikan pihak-pihak yang berkepentingan (stake holder).
0
komentar
Kategori:
Pemikiran,
Pengalaman
Menulis Novel Dalam Waktu Kurang Dari Satu Bulan
Kemarin saya menulis komentar untuk beberapa film. Dari Komentar-komentar itu lahir pula beberapa ide untuk tulisan. Dan saya terus saja menulis. Hasilnya ternyata saya dapat menulis sekitar 950 kata dalam waktu kurang dari satu jam, mungkin kira-kira 45 menit. Saya tahu itu karena di komputer saya, yang menggunakan sistem operasi Ubuntu Linux, terpasang software Workrave yang saya atur agar memaksa saya untuk mengambil istirahat selama 10 menit setiap jamnya.
Dapat menulis 950 kata dalam waktu kurang dari satu jam merupakan sesuatu yang menarik bagi saya. Ini dikarenakan apabila saya dapat terus mengasah kemampuan menulis saya, maka saya dapat menulis sebuah novel dalam waktu kurang dari satu bulan. Perhitungannya sangat sederhana. Saya pernah mendapatkan softcopy novel teman saya, tentu saja yang masih belum final, yang ketika saya hitung jumlah katanya ada sekitar 39.869 kata. Novel terbitannya tentu saja tidak jauh berbeda dengan versi draftnya. Nah sekarang asumsikan saja saya ingin membuat satu novel dengan 45.000 kata, dan diasumsikan saya dapat menulis 1000 kata dalam satu jam, maka saya hanya butuh 45 jam untuk menyelesaikan novel tersebut. Jika saya bekerja 5 jam perhari maka saya dapat menyelesaikan novel tersebut dalam waktu 8 hari. Hebat bukan?
Akan tetapi hal tersebut tentu saja tidak akan semulus yang dibayangkan. Terutama bagi saya yang masih sangat pemula dalam hal tulis menulis. Hambatan-hambatan yang pastinya akan sering saya temui adalah writer block dan mood yang tidak mendukung. Writer block bisa jadi berupa tidak tahu apa yang akan ditulis selanjutnya. Hal ini memang dapat diatasi dengan membuat semacam outline cerita terlebih dahulu. Namun demikian, terkadang membuat outline itu sendiri juga dapat menyita waktu yang cukup lama. Bahkan dengan outline pun terkadang saya masih menemui hambatan writer block yang berupa kebingungan bagaimana menggambarkan atau menuliskan sebuah adegan, termasuk di dalamnya memilih kata yang tepat. Untuk mood, saya tidak bisa bilang banyak. Terkadang muncul, tetapi seringkali tidak. Namun demikian hal ini juga dapat diatasi dengan melatih diri dengan menulis dengan teratur pada jadwal yang teratur.
Saat ini saya sedang melatih kemampuan menulis saya dengan mencoba menulis dengan teratur. Dalam hal ini saya akan mencoba menulis apapun, seperti yang telah di inspirasikan oleh film Marley and Me. Saya sebenarnya telah tahu mengenai teknik menulis "jotting", atau menulis apa saja, untuk menghilangkan writer block dan mengeluarkan diri dari kungkungan mood, akan tetapi saya baru terpacu ketika saya menonton film Marley and Me.
Dapat menulis 950 kata dalam waktu kurang dari satu jam merupakan sesuatu yang menarik bagi saya. Ini dikarenakan apabila saya dapat terus mengasah kemampuan menulis saya, maka saya dapat menulis sebuah novel dalam waktu kurang dari satu bulan. Perhitungannya sangat sederhana. Saya pernah mendapatkan softcopy novel teman saya, tentu saja yang masih belum final, yang ketika saya hitung jumlah katanya ada sekitar 39.869 kata. Novel terbitannya tentu saja tidak jauh berbeda dengan versi draftnya. Nah sekarang asumsikan saja saya ingin membuat satu novel dengan 45.000 kata, dan diasumsikan saya dapat menulis 1000 kata dalam satu jam, maka saya hanya butuh 45 jam untuk menyelesaikan novel tersebut. Jika saya bekerja 5 jam perhari maka saya dapat menyelesaikan novel tersebut dalam waktu 8 hari. Hebat bukan?
Akan tetapi hal tersebut tentu saja tidak akan semulus yang dibayangkan. Terutama bagi saya yang masih sangat pemula dalam hal tulis menulis. Hambatan-hambatan yang pastinya akan sering saya temui adalah writer block dan mood yang tidak mendukung. Writer block bisa jadi berupa tidak tahu apa yang akan ditulis selanjutnya. Hal ini memang dapat diatasi dengan membuat semacam outline cerita terlebih dahulu. Namun demikian, terkadang membuat outline itu sendiri juga dapat menyita waktu yang cukup lama. Bahkan dengan outline pun terkadang saya masih menemui hambatan writer block yang berupa kebingungan bagaimana menggambarkan atau menuliskan sebuah adegan, termasuk di dalamnya memilih kata yang tepat. Untuk mood, saya tidak bisa bilang banyak. Terkadang muncul, tetapi seringkali tidak. Namun demikian hal ini juga dapat diatasi dengan melatih diri dengan menulis dengan teratur pada jadwal yang teratur.
Saat ini saya sedang melatih kemampuan menulis saya dengan mencoba menulis dengan teratur. Dalam hal ini saya akan mencoba menulis apapun, seperti yang telah di inspirasikan oleh film Marley and Me. Saya sebenarnya telah tahu mengenai teknik menulis "jotting", atau menulis apa saja, untuk menghilangkan writer block dan mengeluarkan diri dari kungkungan mood, akan tetapi saya baru terpacu ketika saya menonton film Marley and Me.
0
komentar
Kategori:
Pemikiran
Film Mama Mia: Non Romantical Musical Film
Mama Mia, sebuah film musikal yang sepertinya merupakan semacam franchaise dari kontes pencari bakat dengan nama serupa. Saya pribadi agak terganggu dengan bintang film yang memerankan peran utama dalam film ini, akan tetapi secara keseluruhan film ini cukup bagus.
Hal yang membuat film ini bagus menurut saya adalah kejadian-kejadian film yang tidak bisa saya tebak. Pada awalnya saya berfikir bahwa film ini bakal ada adegan "hide and seek", akan tetapi ternyata tidak demikian. Banyak sekali adegan yang benar-benar mengejutkan saya dalam film ini, termasuk endingnya. Hal lain tentu saja adalah musik dan lagu-lagunya. Namun demikian saya tidak melihat film ini sebagai film yang romantis sama sekali.
Hal yang membuat film ini bagus menurut saya adalah kejadian-kejadian film yang tidak bisa saya tebak. Pada awalnya saya berfikir bahwa film ini bakal ada adegan "hide and seek", akan tetapi ternyata tidak demikian. Banyak sekali adegan yang benar-benar mengejutkan saya dalam film ini, termasuk endingnya. Hal lain tentu saja adalah musik dan lagu-lagunya. Namun demikian saya tidak melihat film ini sebagai film yang romantis sama sekali.
0
komentar
Kategori:
Dunia Film
Film Changeling
Film yang dibintangi oleh Angelina Jolie ini berkisah mengenai seorang ibu yang kehilangan anaknya dan menjadi korban kekorupan kepolisian di Los Angelos (LAPD). Film ini sangat menarik karena dapat memberi inspirasi mengenai harapan dan semangat pantang menyerah. Juga dapat memberi gambaran mengenai sebegitu besarnya cinta seorang ibu terhadap anaknya yang dapat membuat seorang ibu dapat melakukan apa saja demi anaknya tercinta.
Film ini berdurasi cukup panjang, sekitar 2 jam 21 menit. Akan tetapi ketika saya menontonnya saya tidak merasa bosan sama sekali. Setiap adegan sepertinya selalu membuat saya terpaku di depan layar untuk mengetahui apakah yang akan terjadi selanjutnya. Dalam pikiran saya selalu terjadi perdebatan: "Apakah film ini akan berakhir bahagia, ataukah sebaliknya?".
Film ini berdurasi cukup panjang, sekitar 2 jam 21 menit. Akan tetapi ketika saya menontonnya saya tidak merasa bosan sama sekali. Setiap adegan sepertinya selalu membuat saya terpaku di depan layar untuk mengetahui apakah yang akan terjadi selanjutnya. Dalam pikiran saya selalu terjadi perdebatan: "Apakah film ini akan berakhir bahagia, ataukah sebaliknya?".
0
komentar
Kategori:
Dunia Film
Langganan:
Postingan (Atom)